Jadi Zombi Tanpa Energi (Listrik)

15 Oct 2014

c10b22a9ea86b20cf18b5c3ec46bdbb9_logo-pln

Bumi apabila dilihat dari atas terlihat dalam rona berbeda. Sebagian nampak terang. Sebagian lain pekat. Wilayah yang gulita itu adalah Afrika. Jadi ternyata sebutan benua hitam untuk Afrika, tak melulu soal warna kulit dan nasib (mereka dianggap tertinggal). Melainkan juga karena di sana pancaran energi listrik sangat sedikit. Hingga terlihat kelam kala malam. Kontras dengan belahan bumi lainnya (terutama Eropa dan Amerika), yang terang menggemintang. Lantaran electrical power (energi listrik) yang begitu kuat.

Petikan informasi di alinea barusan, dapat dibaca dalam buku The World is Flat, karya Thomas I. Friedman.. Buku ini memberi argumentasi ringkas, bahwa omong kosong memperbincangkan kemajuan penduduk dunia tanpa memikirkan bagaimana jaringan instalasi listrik bisa tersalur.

Contohnya, ya itu tadi, Benua Afrika. Karena saluran penerangan (dari listrik) terbatas, maka gerak kehidupan menjadi kaku. Ketersediaan energi listrik adalah infrastruktur dasar. Ingat pesan Margaret Thatcer, mantan Perdana Menteri Inggris, bahwa manusia bisa bergerak maju hanya dengan mengandalkan kaki, tetapi ekonomi tak akan bisa bergerak maju tanpa adanya infrastruktur.

Infrastruktur kelistrikan, dengan demikian, sumber penggerak segala hal.

Mesin berhenti berputar jika tak ada pasokan energi listrik. Komputer, gadget, dan perangkat teknologi canggih hanya akan menjadi onggokan barang tak berguna jika tak ada setrum. Jalan raya, perkampungan, perkotaan, akan gelap gulita jika listrik tak menyala. Apa yang bisa diproduksi dalam keadaan sedemikian?

Fakta-fakta standar seperti ini mungkin terkesan biasa saja. Semua orang tahu itu. Rumus baku hampir tak terbantahkan, bahwa Listrik adalah penggerak industri, produksi, dan ekonomi.

Lain hal jika kita menyodorkan bukti-bukti lompatan kemajuan beberapa negara di Asia, karena mereka sanggup menggeber pembangunan infrastruktur kelistrikan dengan besar-besaran.

Masih mengutip buku The World Is Flat, bahwa India (terutama Kota Bangalore), Thailand, dan Malaysia, adalah calon raksasa baru yang memanfaatkan kecanggihan teknologi inforamsi (cybernet, jaringan online). Mereka bisa melaksanakan itu semua karena pemerintahannya telah siap memasang sumber energi listrik di mana-mana. Kawasan pelosok dan terisolir sekalipun, akan mendunia manakala terhubung dengan sistem internet dunia, dan itu artinya listrik harus menyala.

Kasus-kasus India, Thailand, dan Malaysia menguatkan serentetan bukti, bahwa dengan listrik, urusan yang bisa selesai bukan hanya soal ekonomi. Melainkan (dengan listrik yang tersebar di seluruh wilayah), lompatan kemajuan melebar ke mana-mana. Antara lain: edukasi, partisipasi, teknologi, dan bahkan demokrasi.

Uraiannya jelas, kaitan antara listrik dan edukasi adalah bahwa rakyat di tiga negara itu bisa belajar bebas, non stop, mandiri, berjejaring, dan selalu up date. Kebodohan bisa tumpas andai rakyat di pelosok sekalipun bisa mengakses internet dan media pembelajaran online lainnya. Lalu berikut, kaitan antara listrik dan partisipasi, terjadi karena prakarsa warga negara bisa bangkit. Mereka bisa bertukar pengalaman dengan orang lain di mana saja, seraya membangun kerjasama yang produktif. Listrik yang menyala adalah juga semangat yang menyala pula.

Sementara kaitan energi listrik dengan teknologi adalah fungsi timbal balik yang pasti hadir, saling menguatkan, saling memfasilitasi. Terjadi mutual simbiosis alias hubungan saling menguntungkan.

Nah, yang terakhir, kaitan listrik dengan demokrasi, Anda tinggal melihat bagaimana laptop yang menyala bisa mengirim informasi apa saja, tanpa ada satupun pihak yang bisa membatasi. Itu artinya tiap kepala bisa mengemukakan hak-hak politik mereka. Ada memang kasus China atau beberapa negara di Timur Tengah yang melakukan blockade atas content dan aplikasi tertentu di internet. Tetapi selalu ada kreasi yang tak bisa dikontrol, apabila pasokan listrik selalu menyala. Listrik membantu orang-orang pintar dan cerdas untuk terus menerus berusaha. Termasuk dalam usaha politik dan demokratisasi.

Saking penting, sepertinya hidup kita akan menjadi zombie tanpa energi (listrik).

Maka setiap kita wajib sadar untuk tidak melakukan penghamburan dan penyia-nyiaan atas anugerah listrik. Langkah paling mudah: syukuri anugerah listrik (Ingat kasus Afrika, yang gulita hingga terus tertinggal). Langkah berikut: pastikan aktivitas kita punya daya guna dan nilai guna ketika menyalakan energil istrik. Jangan lupa pula, untuk ikut dalam sosialisasi dan kampanye hemat listrik, di lingkungan, di pergaulan, di rumah, dan via blog, seperti blogdetik ini. Tentu bukan kampanye retorika, melainkan sikap dan tingkah laku. Itulah Ideku Untuk PLN


TAGS


-

Author

Follow Me