Sejarah Media Sosial Berasal dari Indonesia

23 Oct 2014

Jangan-jangan benar nujuman Plato, bahwa Atlantis itu berada di Indonesia? Sebentar Atlantis adalah nama yang menggambarkan Maha Kekaisaran yang sangat adidaya di zaman antah berantah.

Sebuah buku, malah dengan yakin mengganti kata jangan-jangan di awal tulisan ini menjadi: ya, pasti.

Buku itu berjudulAtlantis, The Lost Continent Finally Found, karya Arysio Santos, menemukan bahwa ciri-ciri Atlantis versi Murid Socrates itu sama persis dengan kerajaan maha besar era silam, yang ada di Selat Sunda. Plato menyebut Atlantis adalah kerajaan yang sangat makmur, kaya raya, balatentara gajah, dan alamnya sangat indah

Sesungguhnya agak banyak klaim sejarah yang menyebut Indonesia sebagai sumber utama. Termasuk sejumlah fosil di beberapa situs (seperti Sangiran), sebagai penunjuk atas awal mulanya kehidupanHomo Sapiens (manusia yang sudah mampu berpikir).

Tak berbilang pula pernyataan-pernyataan historis yang membawa-bawa nama Indonesia atau temuan dari Indonesia, sebagai sesuatu yang agung, melampaui apapun yang pernah ada di dunia. Termasuk, misalnya, situs Gunung Padang, yang disebut lebih tua dan menjadiarchetype (model kuno) bangunan sejenis piramida di mana-mana (tentu, termasuk bangunan piramida milik Suku Maya dalam kebudayaan Meso Amerika, dan Piramida Mesir, era Babilonia ).

Belum lama juga malah ada buku yang cukup aneh, yang menyebut-nyebut bahwa kerajaan yang dipimpin Ratu Saba (dalam kisah Nabi Sulaiman), justru ada di Jawa, bukan di Yaman, dan bukti bangunannya adalah Candi Borobudur. Buku berjudulBorobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman, karya Fahmi Basya (Ufuk Press, Jakarta, 2012).

Kalau dibaca-baca, penulis buku ini cukup tekun merangkai bukti. Sayang, terlalu banyak argumentasinya disusun berdasarkan keyakinan non akademik. Dari 40 tafsir dan pembuktian yang dilakukan penulisnya (untuk meyakinkan bahwa Borobudur adalah milik Nabi Sulaiman), kebanyakan berbau mistis.

Misalnya: pola pahatan pada relif Borobudur sama sekali bukan buatan manusia, melainkan karya Jin. Mengapa? Karena tak mungkin manusia bisa memilin dan membuat pola pada batu yang begitu keras, melainkan hanya Jin anak buah Nabi Sulaiman yang mampu melakukan itu. Beberapa arca dan relief dibuat sangat rumit, dan itu bukan pahatan!

Tapi memang sejarah penuh spekulasi. Terlebih sejarah purbakala. Butuh seperangkat ilmu dan teknik yang ketat, guna membuktikan sebuah klaim. Tak cukup dengan eksavasi (pengangkatan) benda-benda tinggalan sejarah kuno (mulai dari prasasti, bebatuan, kayu, dan serpihan barang pecah belah).

Melainkan juga perlu metode kritis, guna memastikan derajat kepastian sebuah temuan bersejarah. Setidaknya, klaim temuan historis, perlu diuji dari kiri dan kanan. Mulai dari penelitian radio karbonik (guna menguji usia benda sejarah),numismasik (ilmu koin-koin kuno), epilogi (ilmu cara membaca teks kuno di berbagai prasasti), filologi (ilmu tentang naskah kuno), paleologi (ilmu tentang era sejarah berdasarkan zaman batu), toponimi (ilmu asal usul nama bersejarah), dan masih banyak lagi. Filsuf Bertnand Russel bahkan menyarankan agar ilmu sejarah kuno juga dibantu dengan ilmu filsafat dan sosial, agar segala temuan sejarah bisa dimaknai dengan pas

Lalu bagaimana jika ada klaim bahwa sejarah media (dan media sosial) juga berawal di Indonesia?

Beruntung, hipotesis yang ini agak ringan dan tak beresiko meruntuhkan teori-teori dasar dalam Sejarah Media Massa dan Media Sosial di dunia. Malah justru memperkaya wacana.

Bisa jadi malah tesis sejarah media sosial bermula di Indonesia juga didukung bukti yang berserak, dan hasil dari telaah ilmu-ilmu pendukung sejarah yang telah ada. Dengan demikian, klaim ini hanya mengikat bukti menjadi satu asumsi.

Apa itu?Pertama, sejarawan dunia (semisal Arnold Toynbee), sepakat menyebut bahwa asal-usul sejarah purba tentang tulisan, teks, bahasa, dan tanda, sudah berusia sekitar puluhan ribu tahun lalu. Salah satu bukti yang sering disebut adalah temuan lukisan goa (cave painting) di Prancis dan Spanyol (berusia sekitar 20-30 ribu tahun.

Intinya, sejarah asal usul keterampilan manusia berkirim pesan secara massal, berasal dari contoh adanya lukisan goa karya manusia purba.

Kedua, ilmu komunikasi pun mengakui bahwa proses awal atau tahapan paling dini atas lahirnya komunikasi manusia, juga bermula dari lukisan goa itu. Silahkan baca buku karya Alo Liliweri, berjudulKomunikasi Serba Ada, Serba Makna, guna membuktikan kronologi sejarah ilmu komunikasi.

Artinya, lukisan pada dinding goa hasil karya manusia purba, memang adalah cikal bakal lahirnya keterampilan bermedia, termasuk bermedia sosial.

Ketiga, media atau media sosial adalah sama-sama perangkat yang mewadahi niat manusia untuk saling berinteraksi, dan media paling kuno, tak lain adalah karya-karya manusia yang dibuat di berbagai tempat dan benda. Kadang di bebatuan, tulang, tanduk, kayu, kulit binatang, dan yang paling kuno adalah dilukis di dinding goa.

Sekarang mari kita buktikan, lukisan goa yang mana yang usianya paling tua? Ternyata adalah berasal dari Goa-Goa yang ada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Para pakar menguji secara ilmiah, bahwa usia lukisan goa ini jauh lebih tua tinimbang yang ditemukan di Eropa (Spanyol dan Perancis). Dengan demikian, bila mengurut pada garis waktu, maka sejarah media dan media sosial memang berasal dari Indonesia.

Kalaupun butuh pengujian lebih detil, maka tinggal memilah definisi media dan media sosial era kuno. Kita tahu, media adalah wahana ekspresi komunikasi manusia, dan itu bisa dilakukan dengan cara apa saja. Termasuk dengan mengguratkan lukisan di dinding goa. Sementara media sosial, adalah wahana bermedia yang dilakukan dengan cara kolaboratif (dikerjakan bersama, jadi milik bersama), pesannya dinikmati secara massal, tidak terlembaga (bukan dimiliki oleh pemodal tertentu), dan bertujuan untuk kepentingan bersama pula.

Malah ada pula ciri lain yang menyamakan media (dan media sosial) era purba dengan era internet hari ini, yakni sama-sama memiliki otonomi informasi. Otonomi informasi, kata Harold Innis, ekonom dari Kanada (yang kemudia mengkaji sejarah media sebagai alat ekonomi), adalah otoritas untuk mengelola informasi untuk digunakan sebagai alat dominasi. Persis seperti yang dilakukan sekarang ini…


TAGS


-

Author

Follow Me