Media Sosial Era Pahlawan Nasional

10 Nov 2014

e38b388bee0dd19094da559e77241cf7_bung-karno

Bagaimana jika Bung Karno sudah mengenal instagram? Ribuan foto diri beliau pasti tersebar kencang dan disambut dengan menggempita (mengingat sosoknya yang fotogenik, tampan, dan kerap hadir dalam momen-momen penting dan menarik). Syahrini —jika hidup di zaman itu, pasti lewat!

Andai Blog sudah ada, maka bisa jadi Blogger yang paling aktif sekaligus menarik adalah milik nama-nama sekelas Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, dan sederet tokoh-tokoh kaliber lain. Lantaran mereka adalah intelektual berbobot yang sangat hobi menulis. Kira-kira twitter, facebook (sekali lagi, andai waktu itu sudah digunakan), bakal marak dengan slogan-jargon perjuangan yang digelorakan oleh Si Raja Pemogokan RM Soerjopranoto, yang membakar emosi massa rakyat, untuk melakukan sabotase-mogok-boikot, terhadap perusahaan-perusahaan pemeras keringat rakyat yang dimiliki Belanda.

Sayangnya, sejarah tak boleh diawali dengan kata andai dan jika. Meski begitu, ada petunjuk faktual yang tersimpan dalam memori historis, bahwa para tokoh nasional juga adalah aktivis media (sosial) yang tekun. Tentu, media sosial yang digunakan selalu versi jadul (zaman dulu). Artikel ini mencoba meringkasnya berikut ini.

Surat-surat pribadi RA Kartini kepada JH Abendanon. Berbagai slebaran dan pamflet dari si Raja Pemogokan (RM Soerjopranoto). Artikel-artikel, puisi, roman, esai budaya dan karya sastra karya para Priyayi Solo (di Koran pertama di negeri ini yaitu Bromartani). Polemik dan debat tertulis antar tokoh pergerakan (Soekarno, Semaun, Tjokroaminoto, Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo). Semua itu adalah jejak-jejak faktual atas lahirnya fajar pencerahan di nusantara. Tersalur via media massa dan media sosial (pamflet, surat, slebaran, petisi, karya sastra, adalah tipikal dari media sosial era lampau).

Etape berjuang lewat tulisan ini menemukan bentuknya yang paling subtil, lantaran mewakili gelora pemikiran Kaoem Boemipoetra yang sedang gelisah. Reproduksi teks (artikel, tulisan, surat, pamflet, slebaran, dan media cetakan lainnya), menjadi pilihan tunggal saat itu. Menulis —atau menyampaikan buah pena— di media-media tercetak, adalah alternatif perjuangan yang paling mudah, murah, tetapi dampaknya sangat menggugah.

Lagipula alternatif berwacana via media itu relatif lepas dari pelbagai kerumitan aturan yang diterapkan Pemerintahan Kolonial. Menulis jauh lebih mudah tinimbang harus membuat organisasi massa, melakukan pertemuan-pertemuan terbuka, menggelar kongres, menciptakan even diskusi kelompok, atau kampanye-kampanye dan rapat umum. Semua forum-forum pertemuan itu, bisa disebut sebagai basis gerakan massa. Penjajah Belanda sangat paranoid terhadap hal-hal seperti ini, olehnya melakukan pembatasan ketat.

Namun bukan berarti mereka (para ideolog gerakan nasionalisme awal Indoensia) anti terhadap gerakan massa. Melainkan justru menyiapkan energi intelektual seraya mematangkan argumentasi ideologis terhadap massa rakyat —akan pentingnya elan perjuangan. Menyitir istilah Sejarawan Arnold Toynbee, para penggagas nasionalisme awal itu adalah golongan creative minority (minoritas kreatif), yang mempengaruhi alam pikir seluruh kalangan (rakyat).

Kelak dalam perjalanan waktu, kaum cerdik cendekia ini terjun langsung dalam pergumulan keras penuh resiko. Menggelar rapat-rapat umum, mengkader para pengikut, test case mental rakyat via aksi mogok-boikot-sabotase, membuat petisi, menggalang organisasi, melakukan demonstrasi, dan bahkan perlawanan fisik yang teroganisir (sebagaimana yang dilakukan putch Prambanan, yaitu elit PKI yang memberontak di Tahun 1926).

Saripati dari kegairahan ber-media (sosial) di masa lalu, yang dilakukan oleh para penemu bangsa (founding fathers, founding person), terletak pada kualitas pesan atau isi. Mereka menulis dan mempublikasi gagasan perjuangan jauh dari mentalitas narsis. Tidak pula sekedar menguarkan ego diri dan kegenitan intelektual. Lebih jauh, ketekunan membuat artikel dan semacamnya itu, juga tak bertujuan komersial atau niat peraihan ekonomistik. Nyaris bisa dibilang modus bermedia sosial kala itu adalah ekspresi diri yang murni.

Padahal jika mau, bisa saja mereka memanfaatkan media sosial sebagai wahana pamer. Catat ini: mereka adalah kelas menengah yang relatif memiliki akses ke pergaulan sosial yang mewah. Juga punya kemampuan ekonomi lumayan, karena berasal dari keluarga ningrat, seraya bisa menikmati fasilitas-fasilitas gaya hidup berkalas —dan jadi impian kawula jelata yang miskin dan menderita.

Terlebih lagi di periode itu arus moderenisasi di Hindia Belanda sedang menggeliat. Masyarakat tengah gandrung dengan inovasi-inovasi dan teknologi baru dari Eropa.

Jalur kereta api, pembuatan fabrik-fabrik, penggunaan mesin diesel dan listrik, telepon, telegraf, radio, fotografi, dan film yang bisa bergerak, kereta angin (sepeda), dan mobil, muncul di mana-mana. Semuanya mendorong lahirnya gaya hidup kebarat-baratan, seperti menjamurnya Club-Club Sosialitet (misalnya Club Harmonie di Batavia), Bioskop, Restaurant, pentas-pentas Tonil Stamboel (semacam teater), perpustakaan, pembukaan Keboen Binatang, pameran (termasuk Ekspo Dagang yang dibuat oleh Raja Gula Oei Tiong Ham, yang disebut terbesar di dunia non Eropa).

Daftar barusan, bisa saja dijadikan alat narsis-dan hedonis. Tetapi para pahlawan nasional itu bukan orang-orang latah yang memuja gaya hidup barat (berbeda dengan hobi menengah Indonesia saat ini yang mendewa-dewakan barat). Siapa saja yang terlibat dalam gaya hidup Noni-Noni dan Nyong Belanda pasti dicap sebagai komprador (antek dan kaki tangan penjajah). Para tokoh nasionalis kerap membuat serangan-serangan pedas atas semua gaya hidup pro Belanda. Misalnya artikel dari Ki Hajar Dewantara, yang berjudul Jika Saya Menjadi Orang Belanda. Tulisan ini mirip olok-olok terhadap kaum kolonial, yang akan berpersta memperingati hari kemerdekaan negara mereka tetapi dilaksanakan di bumi yang sedang mereka jajah.

Ini jadi alat bukti, bahwa media sosial di tangan para pahlawan punya fungsi lain, sebelumnya sebagai alat pencerahan dan penyadaran, berikutnya jadi alat kritik terhadap kumpeni. Malahan jika ditelisik lebih dalam, media (sosial) di tangan para Bapak Bangsa, efektif sebagai penggalang solidaritas.

Lalu mengapa bisa begitu? Para tokoh itu adalah batu karang untuk urusan integritas. Hasilnya: kepercayaan rakyat melekat erat. Sebagai narasumber untuk pendidikan politik, para tokoh itu terbukti dan teruji. Sama sekali bukan politisi petualang, koruptor, atau penipu rakyat.

Retorika mereka sempurna lahir batin, maksudnya menarik dari sisi bahasa, juga mempesona dalam keteladanan. Kekaguman dan kepatuhan massa rakyat terhadap pesan-pesan sosial dari para tokoh, juga bersumber dari daya-daya intelektual dan nalar kritis.

Lengkap sudah, aksi ber-media sosial para tokoh era lampau lahir sebagai pemandu alam pikir dan obor bagi cita-cita nasional. Secara faktual, mereka telah berhasil memanfaatkan media sosial guna mengantar negeri ini ke alam kemerdekaan. Segala hal itu, agaknya tak terjadi hari ini. Media sosial justru jadi alat saling telikung antar sesama, saling tuding, saling ejek, dan memperbesar pertengkaran sesama anak bangsa.


TAGS


-

Author

Follow Me