Batu Cincin adalah Demokratisasi Hobi

4 Dec 2014

b666d0394ffb116e511e0036790cc4c2_batu-cincin

Zaman batu tidak hilang karena manusia kehabisan batu… (Zaki Al Yamani, Menteri Perminyakan Arab Saudi, era 1970-an)

Orang kampung sedang gandrung. Orang kota terpesona. Orang kaya ikut-ikutan memuja. Orang miskin sibuk mikirin. Dengan begitu mudah kita memastikan, bahwa “sesuatu” yang membetot perhatian banyak kalangan itu adalah batu cincin.

Batu cincin merangsek ke orbit gaya hidup masyarakat (terutama pria) nyaris tanpa rekayasa dari siapapun. Seolah menabrak rumus resmi yang sudah begitu mapan, bahwa segala hal yang menjadi populer dan penghias gaya hidup mesti tersokong oleh operasi iklan di media massa. Batu cincin tidak. Beken dan keren dengan tiba-tiba.

Kalaupun ada publikasi intensif dari media massa (baik media konvensional maupun media sosial) itu hadir belakangan. Semata memasok rasa ingin tahu dan menjawab pertanyaan (penasaran) khalayak luas. Maksudnya, media tak berlaku sebagai wahana promosi tahap dini, melainkan pembeber informasi semata.

Tentu ini unik. Mengingat betapa dalamnya faktor pengaruh iklan (dan informasi komersial) yang tertayang di media memanipulasi kesadaran kita. Berhadapan dengan banjirnya “info niaga” yang membujuk otak kita untuk jadi pembeli atau pengkonsumsi, kerap membuat kita tak berdaya. Di hadapan teknologi dan mesin periklanan, kita terlumpuhkan…

Di titik ini, patut kita lihat “ledakan popularitas batu cincin” sebagai pembuktian bahwa iklan bukan segala-galanya. Hidup ini terlalu kaya dengan pelbagai dimensi dan nuansa. Kecerdasan dan kesenangan manusia tak selamanya selalu bisa “didikte” dan diatur oleh kekuatan tertentu. Boleh dikata, batu cincin adalah bukti demokratisasi hobi!

Batu cincin seolah menjadi kesejatian rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Sadar atau tidak, telah lama segala pernik kehidupan kita tersungkur oleh kekuatan maha pengatur. Peri kehidupan kita nyaris terbentur dengan segala rekayasa. Politik terkurung dalam pertarungan para dewa (pimpinan partai). Budaya dan gaya hidup tersedot dalam pencitraan berbau barat. Hiburan dan tontonan melulu menjadi panggung nama-nama tenar dan performa mentereng.

Terkadang kita bukan hanya kalah, tetapi sekaligus merasa malu jika tak bisa meniru apa yang populer di televisi, yang menjadi hobi di lingkungan kelas tinggi, yang menjadi panutan di ruang-ruang publik. Rakyat menjadi manusia robotik yang berlomba-lomba merebut dan memperoleh apa saja yang diiklankan, ditawarkan, dianjurkan oleh industri konsumerisme.

Kita malah bersedia menderita dan terperosok jatuh hanya untuk meraih apa-apa yang ditawarkan dalam strategi pemasaran via media massa. Bayangkan, semua isi kepala di Indonesia tahu bahwa biang keladi kemacetan di mana-mana adalah karena tingginya volume mobil dan motor, dan semua orang jengkel dengan itu. Tetapi apakah periklanan berhenti menawarkan gaya hidup bermobil? Malah makin gencar —dan grafik permintaan tak pernah turun.

Penjelasan panjang itu baru satu aspek dari nilai khas popularitas batu cincin. Sebab di sisi lain, masih ada daya dobrak batu cincin yang lain, yakni meruntuhkan imagologi (pencitraan) melalu merek atau brand.

Sudah lama orang lupa dengan kecerdasan memilih sesuatu berdasarkan mutu —dan bukan berdasarkan gengsi. Opresi periklanan bermain kencang memutar kesadaran manusia untuk membeli dan mengkonsumsi segala sesuatu berdasarkan standar gengsi. Dan itu artinya adalah segala benda yang bermerk hebat, punya citra tinggi, dan menawarkan pesona prestise tersendiri.

Batu cincin tidak bermerk, melainkan identitas asli. Daya tarik batu cincin murni pada kualitas, keunikan, karakter khusus, dan pelbagai sisi unggul lainnya. Semua itu bukan hadir karena campur tangan kapitalisasi —dengan mempermainkan isu, membanjiri memori publik dengan informasi setengah palsu, dengan menghadirkan ikon-ikon persuasi dan bujukan. Batu cincin digdaya bukan karena operasi politik seperti Pilkada, juga bukan hasil reproduksi televisi.

Lalu apa?

Sedikit khasanah tradisi, ditambahi kecintaan pada budaya leluhur, bercampur hobi dari kalangan tertentu, dan selebihnya adalah gerakan dari mulut ke mulut, dari jari ke jari, dari cerita ke cerita, dan dari pertukaran fakta. Itulah proses-proses otentik yang membesasrkan batu cincin.

Semuanya bermain dalam realitas faktual. Orang langsung hadir, terlibat, menilai, mengkritik, dan menentukan untuk suka atau tak suka. Membentuk “pasar tradisional” yang murni. Menyelamatkan akal sehat dalam transaksi ekonomi —yang selama ini melemah. Belakangan fenomean batu cincin juga membawa atribut tambahan, yakni fakta geografi, fakta budaya, dan fakta identitas khas.

Lewat batu cincin, orang kemudian mengenal sejumlah nama-nama gegorafis nusantara (yang sebelumnya nyaris tak dikenal). Nama Pulau Bacan, misalnya, adalah salah satu sebutan yang melesat populer via batu cincin. Berikutnya adalah fakta budaya, yang termuat dalam informasi-informasi tambahan yang melekat pada batu cincin (misalnya batu warisan tradisi tertentu, batu yang menjadi relik budaya tertentu). Dan juga fakta identitas khas, semacam penambahan info sejarah, keaderahan, dan lain-lain.

Melihat itu semua, maka batu cincin layak kita sebut sebagai demokratisasi hobi sejati!


TAGS


-

Author

Follow Me