• 7

    Jun

    Anas (bukan lagi) Anak Emas!

    Anas Urbaningrum The great leader, always the great simplifier (Jenderal Colin Powell, eks Menhan AS). SEWAKTU menjadi Ketua Umum PB HMI, orang sudah melihatnya dengan takzim. Punya retorika bagus. Bahasa komunikasinya (lisan atau tulisan) sedemikian terpilih. Ia pun, saat ghirah reformasi 98 menggelegak, adalah termasuk tokoh muda yang dihitung. Lalu masih ada segenggaman bonus tambahan. Alumni Universitas Airlangga ini disebut-sebut menjadi anak emas sejumlah elit. Terutama mereka yang merupakan alumni HMI. Garis lempang lalu memebentang. Sejumlah posisi penting ditapaki. Mengokohkan statusnya di orbit politik nasional. Mulai dari menjadi Anggota Tim Verifikasi Partai Politik (dipimpin Cak Nur, ideolog HMI), lalu ke KPU, dan kemudian menjadi Ketua Bidang Politik DPP Partai Demokr
  • 31

    May

    SMS Gelap (Uncensored Story)

    Informasi rahasia: heboh SMS gelap bermula dari saran konsultan politik di lingkaran dalam istana. Dengan target: menghasilkan simpati publik sebesar 15%. Prediksi ini sungguh akurat. Sisanya, 80% melahirkan antipati publik. Sementara 5% yang lainnya, melahirkan lelucon. Seperti terurai di bawah ini 1. Pesan dari pacar gelap: Honey, jangan boong ya kamu sekarang lagi di mana? Pesan dari SMS gelap: Heh, jangan bohong ya Saya tahu kamu sekarang lagi di mana!!! 2. Breaking News: Nazaruddin Mengaku Salah. Siap Mundur dari DPR RI (sumber: www.smsgelap.com) 3. Menurut Udin Sedunia, nama pengirim SMS gelap adalah: SaMSudien 4. Habis SMS gelap, terbitlah berita 5. SMS-lah daku, kau kugelapkan 6. Persamaan SMS Cinta dan SMS Gelap: sama-sama dikirim via Handphone. Perbedaannya: yang s
  • 4

    May

    DPR RI (Bukan) Toilet Umum?

    Lukisan DPR RI sebagai toilet umum, oleh Hardi TUHAN maha adil, Ia menciptakan orang yang “pandai bicara” tetapi “tak pandai berkarya”. Ia juga menciptakan orang yang pandai berkarya, meski tak pandai berbicara. Paraphrase (uraian kutipan) barusan, terasa tepat untuk membaca artikulasi publik terhadap DPR RI. Terutama kejengkelan yang sudah mencapai titik didih. Khalayak luas, seolah tak lagi “pandai” berbicara tentang DPR. Bukan lantaran tak mampu berargumentasi, atau lumpuh dalam kemampuan analisis dan penemuan fakta —untuk diungkapkan! Justru kebalikannya: begitu menggunung tumpukan bukti dan argumentasi tentang kebobrokkan DPR. Hanya saja, informasi seputar DPR yang kini “berdarah-darah” itu, ketika jatuh ke tangan rakyat, tak
  • 4

    May

    Rano Karno dan Politik Delegitimasi

    Rano Karno, Wakil Bupati Kab. Tangerang Catatan Kritis Menjelang Pilkada DKI Jakarta Komunitas politik di DKI Jakarta selalu pandai menghukum. Semua partai politik besar pernah merasa jeri di sini. Tidak hanya belakangan —ketika kebebasan politik dinikmati publik sepenuh-penuhnya. Pada era Harmoko masih rajin nongol di televisi dengan kalimat pembuka: “menurut pentunjuk Bapak” sekalipun, DKI adalah “ladang pembantaian”. Orang tentu ingat, Golkar yang super power sekalipun, pernah kalah oleh PPP —di Pemilu 1977. Ini hukuman pertama bagi partai beringin, karena berikutnya masih sempat dihajar oleh PDI Perjuangan (1999) dan PKS (2004). Mohon tidak memaksa mencantumkan kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu lalu sebagai hukuman terhadap partai yang m
  • 25

    Apr

    Pilkada Banten, Harga Diri Tangerang!

    JARAK Jakarta dengan Banten hanya “sepelemparan tombak”. Teramat dekat. Tak perlu Pajero Sport untuk melesat di dua petak lokasi itu —agar tiba dengan segera (jika ditempuhpada pagi buta atau di tiap satu Syawal). Tetapi dalam ritme “normal”, penempuh Banten-Jakarta dijamin penuh peluh dan keluh. Para pebisnis lalu mencibir sinis: mendingan terbang dari Soekarno Hatta ke Changi, paling-paling juga 100 menitan! Lanskap fisik nan dekat itu tak berarti melekat (memiliki kesamaan, daya tarik dan pertautan yang kuat). Jakarta dan Banten senyatanya seperti dua kutub dengan perbedaan mencolok. Tak ada bahasa generik untuk merangkum nuansa perbedaan karakter dua wilayah yang bertetangga ini. Akan tetapi, dalam zona politik terpanas saat ini, ada baiknya ikuti sini
  • 11

    Apr

    Paparazzi "Porno" dan Showbiz DPR

    Imagologi Politik adalah Politik Pencitraan PAPARAZZI politik tiba-tiba menyembul dalam khasanah media massa kita. Korban mengenaskan mulai berjatuhan. Berinisial A, politisi dari Partai Dakwah yang kini menjadi Partai Mewah (karena menarik gossip yang berbunyi milyar dan bahkan triliun, mulai dari Misbahkhun, pengakuan Pak Yusuf, hingga koalisi panas yang bernuansa kekuasaan dan uang). Anggota Dewan itu nahas betul. Foto-fotonya yang tengah memelototi suguhan hot terekam jelas (sejelas uang reses yang diterima anggota dewan di pertengahan April hingga Mei ini). Sungguh ketangkasan memainkan fungsi kamera untuk merekam gambar yang momennya adalah terkategori extraordinary (tidak biasa), yang dilakukan Mat Kodak (sapaan kuno terhadap para fotografer), benar-benar memasukan entri
  • 24

    Jan

    Tuhan Maha Tahu, Tetapi Nurdin Halid (teuteup) Belagu...

    Di Indonesia, opini publik sekeras apapun nyaris hanya menjadi angin lalu (gone with the wind). Tak ada rasa malu. Jauh dari heroisme untuk bertanggung-jawab. Apa-apa yang menerpa Nurdin Halid, jika terjadi di Jepang, sudah lebih dari cukup untuk membuat para pejabat bunuh diri, atau minimal meletakkan jabatan . Di kita, sama sekali tidak… Mereka, Nurdin Halid salah satunya, bukan hanya membiarkan angin (opini) itu berlalu. Tetapi malah seperti membuat kincir besar, seraya mengendalikan ke arah lain. Di saat berhembus kejengkelan publik bahwa ia gagal memimpin, malah dijawab dengan kalimat belagu: PSSI sukses, dan itu adalah jasa saya dan Golkar (seperti dikutip oleh harian Tribun Makassar, beberapa hari lalu). Di antara cercaan banyak pihak yang dialamatkan ke wajahnya, Nurdi
  • 21

    Jan

    Resensi Buku: Hikayat Populer Tan Malaka

    Cover Buku Patjar Merah Indonesia, Jilid II Sungai Brantas, Kediri, Jawa Timur, 19 Februari 1948. Di sinilah Tan Malaka tamat riwayat. Tak banyak penggalan fisik dari tokoh legendaris ini. Jauh dari kemewahan fotografis ala Bung Karno (yang memiliki ribuan koleksi foto dalam berbagai momen). Seorang pejuang kiri nasionalis yang radikal ini, yang bernama lengkap Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka, hanya menyisakan sedikit saja kenangan dalam bentuk fisik. Kita kini bahkan harus menikmati foto klasik hitam putih itu-itu melulu —-demi menggambarkan raut muka Tan Malaka. Namun bukan berarti Tan Malaka mewariskan catatan kering. Lebih dari sekedar cukup, bahkan melimpah: buku-buku, pamphlet, brosur, memoir, surat-surat pribadi, hingga Roman (atau Novel) bertebaran di mana-mana
  • 19

    Aug

    Hedonisme(!) Politik Ruhut Sitompul

    Salah satu pihak yang potensial menjadi korban politik pencitraan kelas tinggi adalah ini: para pelakunya sendiri. Jauh-jauhlah berharap bahwa Ruhut Sitompul adalah salah satu orang yang sadar akan ancaman ini. Mengingat tokoh pemeran Poltak ini hanya tahu satu hal: hedonisme politik! Hedonisme adalah praktek bersenang-senang secara liar tanpa peduli nasib orang lain. Filsafat hedonisme tak kenal baik dan buruk, kecuali mencandu kepuasan sedalam-dalamnya. Sementara hedonisme politik adalah praktek menguras habis, memanfaatkan, memanipulasi, dan mencampakkan kepatutan, hanya demi mencapai ekstase (kesenangan) tanpa batas. Dan politisi Partai Demokrat yang kerap berulah minor ini secara sempurna menjadi politisi hedonis, baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun kejahatan politik sekaligus
  • 18

    Aug

    Mabuk Citra Para Politisi Kita

    Hanya dua hal yang tidak bisa disembunyikan dalam hidup kita: “mabuk” dan “cinta”. Jauh lebih parah bila hal itu datang bersamaan: mabuk cinta! Tak perlu penjelasan akan hal ini. Justru yang menarik adalah telaah terhadap perilaku “mabuk citra” yang menjangkiti para politisi. Dalam politik, petuah sarkastik itupun berlaku. Hanya dua hal dalam politik yang tak boleh disembunyikan: “kebaikan” dan “kesantunan”. Ketika politisi terserang mabuk citra, maka ia sedang getol memainkan kebaikan dan kesantunan berpolitik. Baca pelan-pelan saja. Di saat berbuat baik, politisi sejati pasti akan mengundang koleganya dari media massa. Kalau perlu, disertai Konferensi Pers dan senarai puja-puji dari orang-orang terkenal. Pastikan bersok pagi
-

Author

Follow Me