• 29

    Nov

    Pesan Bunda: "Nak, Kamu Jangan Jadi Wartawan!"

    “Ada ribuan cara untuk mati”, kata Nabi. “Jika bisa lolos dari pelbagai ancaman kematian itu, maka tak ada seorangpun yang bisa lepas dari kematian karena umur.” Entah seperti apa kalimat yang utuh tentang petikan sabda Rosul itu, tapi yang jelas hal itu adalah pengingatan. Untuk sesuatu yang kerap kita lebih suka melupakannya. Namun namanya manusia, tetap saja meletupkan sejuta tanda tanya. Terkhusus kala datang kabar-kabar kematian. Lebih-lebih bila itu menohok rasa kaget dan ngeri. Tak salah-salah amat juga sebetulnya. Menjadi rewel bertanya-tanya, adalah sebentuk bukti bahwa kita manusia waras. Sah belaka jika otak tak mau diam, di saat muncul suatu keganjilan —yang menyertai kematian. Inilah yang membuat pikiran kita membuncah. Sebuah kabar
  • 21

    Dec

    Iklan Politik dan Kecerdasan Publik

    Jika Raja Mataram di Jawa mengandalkan wahyu untuk merebut pengaruh. Maka Raja Media di Jakarta, memakai iklan… Cara cerdas merespon iklan politik di televisi adalah: ambil remote control (lalu ganti saluran). Namun cara ini pun mungkin segera berlalu. Mengingat betapa televisi sudah bersekutu dengan para politisi (atau bisa dibalik, politisi yang bersekongkol dengan televisi). Tinggal hitung waktu, bahwa nama-nama seperti Surya Paloh, Harry Tanoe, Chairul Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Eric Thohir, wara-wiri mengibarkan bendera partai mereka —di layar kaca. Maka kelak lelucon lawas lahir kembali. Dulu, di era Orde Baru, seorang Kakek bolak-balik di antara beberapa gerai toko elektronik di Glodok. Lalu, seorang penjual bertanya: Kek, memang mau mencari apa? Si Kakek menj
  • 10

    Dec

    Candu Korupsi di Televisi

    Rajin pangkal pandai, hemat tanda tak kaya… (Anekdot) Publikasi gencar (total exposure) atas isu korupsi di televisi hanya membawa pada satu prestasi utama. Tak lain adalah runtuhnya asumsi dan pelbagai teori tentang fungsi kontrol media massa (misalnya di televisi). Sisa prestasi yang lain adalah pengelola televisi untung banyak, ratting program berita (atau talk show) naik, penonton kian terikat, dan ujung-ujungnya orderan iklan antri di meja kasir. Satu dekade lewat, betapa medan wacana intelektual negeri ini penuh dengan optimisme, bahwa jika terdapat kebebasan media maka itu akan bermanfaat untuk menggunting praktek korupsi oleh para penguasa. Pijakan nalarnya adalah: jika para koruptor diserang habis-habisan maka akan lahir efek jera (detterence). Tambahan lain, jika isu ko
  • 7

    Dec

    Mengapa Butuh Kecerdasan Bermedia?

    Your mind is not your mine, when you watch TV… A. Era Baru Media Massa Kecerdasan bermedia (media literacy) menjadi isu penting untuk menghadapi fenomena bermedia (massa) saat ini. Karena tren terkini memperlihatkan bahwa media massa telah memperlihatkan diri sebagai sebuah entitas (wujud) yang benar-benar tak pernah berhenti berubah. Di aras teknologi, media massa bertiwikrama dalam pelbagai bentuk. Bahkan nyaris lebih canggih dari perkiraan yang pernah dibuat para pakar dalam beberapa tahun lampau. Kemudian dari segi pola hubungan penyampaian pesan, media massa (dan sosial) juga mengenal karakteristik hubungan yang baru, yaitu bersifat interaktif, kolaboratif, dan kreatif. Sementara dari segi dampak, melahirkan sebuah kultur bermedia yang baru, di mana media telah menjadi alat
  • 7

    Dec

    Bahaya "Nikah Siri" Televisi dan Politisi

    Saya percaya televisi itu membuat cerdas. Buktinya, ketika ada orang lain menyalakan TV, saya segera bergegas menjauh. Lalu membaca buku… (Ungkapan Anonimous) Hanya satu kebetulan memang, bahwa dalam transliterasi bahasa Indonesia, mengenal istilah politis(i) dan televis(i). Diujung hurup kedua istilah barusan, terdengar sama (homophone). Yakni sama-sama si. Tetapi bukanlah suatu kebetulan, jika di level penampilan, kedua istilah itu juga memiliki irisan kemiripan. Baiklah. Semoga tak keberatan dengan anekdot berikut: hanya televisi yang masuk Surga, lantaran rajin mengumandangkan Adzan, terutama di saat Maghrib dan Subuh. Meski sebenarnya, posisi untuk keberatan pun sahih. Betapa di saat bersamaan, televisi pula yang getol menayang adegan hot, umbar bikini, dan sajian yang nyar
  • 27

    Jun

    "Aliran Sehat" Jamaah Al Blogdetik-iyah

    Logo Blogdetik Seumpama sholat berjamaah, bagian terbesar kita adalah makmum. Berada di barisan paling belakang —datang terlambat pula! Dalam bahasa ilmu fiqh disebut Makmum Masbuk Begitu pula riwayat kehadiran saya bersama Jamaah Al Blogdetik-iyah. Tidak seperti hadirin wal hadirat lain yang telah berjejer di garda depan, memiliki kehandalan tak kira-kira, masyhur bin tenar di empat penjuru mata angin, mereka yang telah menjadi Imam di antara para blogger(detik), kemunculan saya malah tergeragap di deretan pemula. Tapi seperti kata Nabi, segala sesuatu tergantung niat. Jadi, meski mengekor di shaf (barisan) terakhir, tak berarti hadir asal-asalan. Hadirnya hati, memiliki tujuan, memperoleh (sepetik) kebahagiaan, dan memperlebar silaturahmi, adalah setumpuk perkara yang mengu
  • 6

    Jun

    Logika Mister A, Dewi Persik, dan Heboh Peti Mati

    Dewi Persik dan Berita Kontroversial Kelak, semua orang akan bisa popuer, paling tdak selama lima belas menit (Andy Warhol). Para politisi memang bukan Dewi Persik —tepatnya belum belajar ke pemeran Hantu Goyang Kerawang itu. Berani melawan tabu. Melabarak opini umum. Meletakkan kepura-puraan di laci dapur. Dewi Persik lah orangnya, untuk aksi-aksi seperti itu. Meski muara akhir yang dituju selalu ke situ: kontroversi dan publikasi. Apa yang selalu dilakukannya agak membuat jengah, memang —terutama dari sisi moralitas Agama. Namun setidaknya Sang Dewi tidak hipokrit. Para politisi memang bukan Sumardy MA, pakar pemasaran yang menghebohkan Jakarta dengan kiriman peti mati ke sejumlah kantor media massa. Aksi ini mengingatkan kita akan tingkah serupa, tatkala Tung
  • 4

    May

    Rano Karno dan Politik Delegitimasi

    Rano Karno, Wakil Bupati Kab. Tangerang Catatan Kritis Menjelang Pilkada DKI Jakarta Komunitas politik di DKI Jakarta selalu pandai menghukum. Semua partai politik besar pernah merasa jeri di sini. Tidak hanya belakangan —ketika kebebasan politik dinikmati publik sepenuh-penuhnya. Pada era Harmoko masih rajin nongol di televisi dengan kalimat pembuka: “menurut pentunjuk Bapak” sekalipun, DKI adalah “ladang pembantaian”. Orang tentu ingat, Golkar yang super power sekalipun, pernah kalah oleh PPP —di Pemilu 1977. Ini hukuman pertama bagi partai beringin, karena berikutnya masih sempat dihajar oleh PDI Perjuangan (1999) dan PKS (2004). Mohon tidak memaksa mencantumkan kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu lalu sebagai hukuman terhadap partai yang m
  • 11

    Apr

    Paparazzi "Porno" dan Showbiz DPR

    Imagologi Politik adalah Politik Pencitraan PAPARAZZI politik tiba-tiba menyembul dalam khasanah media massa kita. Korban mengenaskan mulai berjatuhan. Berinisial A, politisi dari Partai Dakwah yang kini menjadi Partai Mewah (karena menarik gossip yang berbunyi milyar dan bahkan triliun, mulai dari Misbahkhun, pengakuan Pak Yusuf, hingga koalisi panas yang bernuansa kekuasaan dan uang). Anggota Dewan itu nahas betul. Foto-fotonya yang tengah memelototi suguhan hot terekam jelas (sejelas uang reses yang diterima anggota dewan di pertengahan April hingga Mei ini). Sungguh ketangkasan memainkan fungsi kamera untuk merekam gambar yang momennya adalah terkategori extraordinary (tidak biasa), yang dilakukan Mat Kodak (sapaan kuno terhadap para fotografer), benar-benar memasukan entri
  • 10

    Apr

    New Kids on The BLOG...

    Blogger Indonesia Penuh Warna Menjadi Blogger adalah menjadi anak-anak zaman. Bersih murni dari ketakutan-ketakutan yang tak waras. Berani berdialog. Jauh lebih mendesak dari semua itu adalah: terampil berekspresi. Bergiat sebagai blogger adalah —seperti anak-anak— menjelajah medan imajinasi dalam memori. Begitulah normalnya dunia anak, yang bisa disebut sebagai surga imajinasi. Mereka bahkan biasa menyebut sayap pesawat sebagai “tangan”. Di sinilah, seperti disebut-sebut pakar neurosains (ilmu otak), perkembangan dan latihan intelektual kita terwadahi. Dulu, era pra blog, mengasah dan mengembangkan kemampuan otak bisa dengan mengisi TTS, teka teki silang, main catur, atau menulis diary. Kini, di blog saja cukup sudah. Mudah-mudahan kita tak lekas pikun, karen
- Next

Author

Follow Me