• 3

    Jun

    Pilpres 2014, dan Para Jenderal Yang Terluka

    Tragedi para Jenderal cemerlang yang ditebang adalah narasi besar dalam sejarah dunia. Julius Cesar (ditikam Brutus dan komplotannya), Belasarius (oleh isterinya), Khalid Bin Walid, Tariq Bin Ziyad (oleh para Khalifah), Jenderal Rommel (oleh Hitler), atau malah Jenderal A. Yani dan Pak Nas (oleh PKI dan Orde Baru). Kisah ini, masih bisa ditambah dengan cerita Uriah, seorang perwira militer cemerlang di era Nabi Daud, yang dibuang hanya karena seorang perempuan bernama Bethseiba (versi Perjanjian Lama). Di Indonesia, duka para jenderal malah seperti garis tanpa ujung. Di era awal kemerdekaan, terjadi pertikaian besar antara para Jenderal (atau petinggi militer) eks KNIL dengan eks PETA, mereka bahkan nyaris melakukan perang saudara, termasuk dengan para petinggi militer jadi-jadian (yang b
  • 25

    Jan
  • 7

    Jan

    Dosa Ganda Anas Urbaningrum

    Anas Urbaningrum pasti tahu salah satu jenis dosa sosial versi Mahatmah Gandhi, yaitu politik tanpa prinsip. Dia bukan tipe politisi cangkokan yang jadi karena rekayasa keluarga. Melainkan tumbuh dan berkarir lewat proses panjang. Salah satu warna dominan dari tapak jejaknya adalah proses intelektual. Boleh dibilang, awalnya, brand sebagai politisi cendekia melekat di dirinya. Inipun bukan atribut yang dibeli dari Kampus Ruko. Memang ada senyata-nyatanya. Sejumlah buku, karir akademik, publikasi ilmiah, pernah lahir di tangannya. Anak-anak HMI yang jadi juniornya selalu ingat dan selalu ingin mencoba satu istilah yang digelontorkan Anas, yakni riset mandiri. Kecendekiaan Anas tempo doeloe tak terbantahkan. Sekali lagi, saya yakin, Anas Urbaningrum pasti pernah membaca pengingatan dosa
  • 6

    Jan

    Dahlan Iskan "Korban" Hukum Besi Komunikasi

    Sekitar dua ratusan lembaga media lahir di tangannya. Entah berapa ribu jurnalis yang langsung tak langsung pernah bernaung di bawah manajemen Grup Media yang ia kelola. Dan bila Napoleon Bonaparte benar, bahwa berita lebih berbahaya daripada peluru, maka tentu Dahlan Iskan adalah orang yang paling menakutkan. Bos Grup Jawa Pos itu tak alang kepalang kekuasaannya dalam soal jaringan media dan distribusi berita. Selalu itu yang menjadi perbincangan orang, tatkala mendiskusikan figur Dahlan Iskan. Entah kawan atau lawan, merasa jeri bila menyebut power peserta konvensi Capres Partai Demokrat ini. Lagipula, tak ada bualan di situ. Mulai dari media besar di Jakarta hingga setumpuk lembaran koran-koran daerah di pelbagai pelosok negeri, nyaris tak pernah absen menayang wajah plu
  • 2

    Jan

    Ancaman Mitos Politik 2014

    Mitos, kata Karen Armstrong, memiliki fungsi khusus. Menjelaskan sesuatu yg belum mampu disentuh oleh logos (nalar, akal). Tak semua mitos jahat dan polutif (meracuni kehidupan). Sebab pada awalnya mitos itu adalah upaya kreatif manusia, guna menjawab segala pertanyaan tentang kehidupan dan alam. Sejarah membuktikan: manusia primitif sekalipun punya hasrat selalu ingin tahu (coriousity need). Mereka berimajinasi dengan pelbagai cara. Tentu, karena tiadanya “alat nalar” canggih seperti saat ini, maka dipakailah metode yang tersedia. Yakni myth (atau mitos, dongeng, legenda, kisah). Di sini jadi jelas: keberadaan mitos justru adalah alat bantu (atas pikiran buntu, untuk ukuran manusia di saat itu). Adakah faedah mitos seperti ini? Banyak. Dunia ilmiah malah kudu berterim
  • 28

    Dec

    Surat Untuk Kaum Intelektual Banten

    Dua kalimat awal di paragraf utama artikel ini berisi interogasi tegas! Bisa disebut sejenis gugatan kepada kaum intelektual di Banten. Sudahkah Anda semua —kaum intelejensia, terdidik, terpelajar— memikirkan benar-benar (serius) nasib Banten? Masih punyakah energi dan daya juang untuk menghadapi pelbagai kemerosotan di daerah yang kita cintai ini? Bepikir serius tentu artinya mengolah nalar secara sistematis, berbasis bukti, dipandu teori, dan menemukan solusi. Sementara energi dan daya-daya perjuangan adalah kemampuan mengubah realitas. Meski berat. Terkhusus setelah Banten ternyata masih cinta status quo. Sebelumnya KNPI Banten, yang begitu pro politik dinasti. Menyusul DPRD Banten. Dan yang terbaru adalah Partai Golkar. Jangan sampai kaum intelektual Banten jatuh sebag
  • 28

    Dec

    Catatan Komunikasi Politik 2013 (Hilangnya Para Pencerah)

    Terasa ada yang hilang dalam tradisi komunikasi politik di tanah air. Mereka para penggagas utama, pemandu pikiran yang bernas, dan penyalur kegelisahan intelektual publik, seperti hilang entah ke mana. Nama-nama seperti Effendi Ghazali (pakar komunikasi politik), Eep Saefullah Fatah (pengamat politik), Burhanudin Muhtadi (periset, analis politik), Yudi Latif (intelektual muda), Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina) dan Firmanzah (pengamat political marketing), seperti kehilangan aura intelektualitasnya. Memang sebenarnya mereka tetap ada. Tetapi sayang para intelektual kritis itu kini menjadi bagian dari sekrup kekuasaan. Ada yang menjadi staf khusus presiden, menjadi panitia konvensi, peserta konvensi, atau mendirikan perusahaan konsultan politik. Posisi baru itu, tentu memb
  • 25

    Dec

    Jika Saya Jadi Anggota DPRD Banten...

    Jika saya menjadi Anggota DPRD Banten, maka garis politik saya hanya satu: ikut apa kehendak Keluarga Ratu… Karena mereka lah yang sesungguhnya menentukan hitam putih Banten hari ini. Keluarga itu mengisi seluruh pojok kekuasaan di tatar Sunda bagian barat ini. Jangankan di eksekutif, di mana Ibu Tiri, Menantu, Adik, dan Ipar Atut bercokol. Bahkan jabatan-jabatan organisasi sosial pun tak lepas dari cengkraman mereka (seperti KNPI Banten, Tagana Banten, dan entah apalagi). Jika saja di Banten ada perhimpunan Hansip atau RT, maka pasti Ketuanya adalah dari keluarga keturunan Almarhum Chasan Shohib itu. Sekedar mengingatkan, menurut temuan ICW, milyaran rupiah uang rakyat Banten mengalir ke organsiasi-organsiasi itu (dengan judul Dana Hibah atau Dana Bantuan Sosial). Tiga tonggak
  • 9

    Dec

    Ayo! Menjadi "Bajingan" Yang Melawan Koruptor

    Pengorbanan adalah hukum kehidupan (Mahatma Gandhi) Para pembebas agung di Nusantara, siapa yang tak berlumur darah? Raden Wijaya kah, ksatria pendiri Majapahit yang bahkan tega menipu pasukan Ku Bilai Khan demi merebut tahta di tangan Jayakatwang, padahal sebelumnya balatentara Mongol itu adalah sekutu yang membantu. Tokoh putih lain pun, punya catatan hitam. Gajah Mada yang membumihanguskan pasukan Padjajaran —padahal mereka adalah pengawal Dyah Pitaloka, dan hadir sebagai tamu. Dan tak perlu kita bahas cerita kelam yang dilakukan para penguasa besar di tanah air, yang jelas-jelas melakukan tindak durjana dalam melakukan perubahan. Dari Ken Arok, Aryo Penangsang, hingga Sultan Haji di Banten… Atau masuk ke tokoh-tokoh Islam Klasik, yang dalam memori publik begitu suci,
  • 4

    Dec

    Bank Mana Lagi, Dibobol Jelang Pemilu?

    Jin dan hantu penunggu pohon sedang cuti bareng. Posisinya sementara ini diambil alih ratusan ribu banner dan foto Caleg (peserta kompetisi Pemilu 2o14). Beruntung hingga hari ini tak ada aktivis lingkungan yang sableng. Bikin aksi balasan. Bakar dupa kemenyan dan kembang tujuh rupa. Di bawah pepohonan bergambar logo partai… Tapi bukan isu sayangi pohon dan cinta lingkungan melulu yang membuat publik meradang. Ongkos. Dari mana sumbernya? Ini interogasi yang perlu dipacu. Betapa sempurnanya Indonesia mengadopsi sistem politik Amerika. Pola Amerikanisasi Politik —-sebagaimana dibahas dalam buku Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi UI, yang berjudul Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, dan Marketing Politik, adalah persaingan kekuasaan yang super mahal. Amerikanisasi politik itu
- Next

Author

Follow Me