• 21

    Jan

    Syeikh Yusuf, Pahlawan Afrika Selatan, Srilanka, Makassar, dan Banten

    Syeikh Yusuf Al Makassari Al Bantani. Lahir dan besar di Makassar. Merantau ke Banten. Berguru ke Aceh hingga Mekah. Berjuang kontra Belanda dalam hutan-hutan lebat di tatar Banten (bersama Sultan Ageng Tirtayasa, Pangerang Purbaya). Ditipu siasat culas Kumpeni di pedalaman Pandeglang. Dibuang ke Cylon (Srilangka). Kemudian wafat di Cape Town (Tanjung Harapan) Afrika Selatan. Jejak kembara mendunia itu mengharumwangikan namanya. Beliau adalah satu-satunya orang Indonesia yang mendapat gelar pahlawan di dua negera, yaitu Indonesia dan Afrika Selatan. Presiden Afsel, Thambo Mbeki, menyematkan penghargaan Oliver Thambo kepada ahli waris Sang Syeikh. Pun memiliki banyak pengikut, di Makassar, Bone, Banten, Srilanka, India (tanah Hindustan), hingga Afrika Selatan. Hingga kini ajaran tarekatny
  • 20

    Jan

    Cahaya Intelektual dan Spiritual dari Quraish Shihab

    Cover Buku Quraish Shihab Nostalgia lama yang hadir nyata! Qurais Shihab seolah hadir guna meyakinkan ummat, bahwa kehebatan kaum Ulama Islam tak tanggung-tanggung. Ulama pembela Islam, selalu berarti orang yang menguasai segala cabang ilmu. Mereka adalah para intelektual ensiklopedik (tahu segala macam bidang). Bahwa kebesaran nama-nama intelektual Islam klasik, dari Ibnu Khaldun, Al Farazi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd, yang fasih dalam multi disiplin ilmu (dari Filsafat, seni, matematika, biologi, sampai astronomi) bukanlah sejarah palsu. Dalam buku ini, berjudul Dia Ada di Mana-Mana, sosok Quraish Shihab kembali menerangi kita dengan cahaya segala cahaya. Pembaca diajak berselancar ke segala detil-detil bidang kehidupan. Sungguh memuaskan otak. Ahli Tafsir Al Quran da
  • 11

    Jan

    Masih Ada Politisi Muda Yang Patut Jadi Teladan...

    Anak-anak muda itu dari mana mendapat inspirasi melawan Jenderal Besar Soeharto? Hal apakah yang meracuni otak mereka? Sehingga begitu nekat menghadapi rezim yang saat itu begitu kukuh dan perkasa memberangus tiap letupan perlawanan? Jangankan anak-anak ingusan (istilah para tentara Orde Baru untuk para aktivis mahasiswa era 90-an), senyampang para Mantan Jenderal sekalipun dengan mudah dilumpuhkan oleh kekuasaan despotik Soeharto. Jika membaca buku Anak-Anak Revolusi-nya Budiman Sudjatmiko ini, yang merupakan otobiografi penulisnya yang ditulis ngepop, jawaban untuk pertanyaan di atas adalah pendek saja. Buku. Ilmu. Dan guru. Tiga perkara itu yang menjadi alat tafsir atas setiap realitas. Budiman Sudjatmiko begitu berhasil menafsirkan pelik-pelik kehidupannya, dengan petikan berbagai
  • 27

    Dec

    Agama dan Tuhan Dipertanyakan(?)

    Buku Masa Depan Tuhan Resensi Buku. Mitra tanding untuk debat intelektual tentang Tuhan, menurut buku ini, adalah kaum atheis. Terutama mereka para intelektual dan pemikir ingkar Tuhan di abad-abad belakangan ini. Menariknya, menurut Karen Armstrong, penulis buku ini, yang berjudul Masa Depan Tuhan, kaum atheis tak sungguh-sungguh menentang eksistensi Tuhan. Slogan Tuhan Sudah Mati (dari Filsuf Sartre) atau perayaan kembali pemikiran agnostik (penentang gagasan-gagasan Tuhan yang bersumber dari teks kitab suci), melulu sebagai respon psikologis. Mereka adalah orang-orang yang kecewa terhadap realitas fundamentalisme agama. Yang terlihat melakukan dehumanisasi dan perusakan. Dan semua itu kerap dikerjakan atas nama kesalehan (ber)agama. Jadi dengan kata lain buku ini menganggap bahwa
  • 22

    Jan

    Resensi Buku: Mereka Yang Menggeletarkan Jiwa

    Cover Buku Heroes Jangan bersedih, hanya karena Anda tak punya mobil. Orang lain malah tak punya kaki… Aidh Al Qorni (Penulis buku laku, La Tahzan) Tubuhnya hanya sepenggal. Dari kepala hingga pinggang sahaja. Tak ada pangkal paha, tak ada betis, tak ada telapak kaki. Sedari kecil, karena kondisi tak normal itu, ia terperangkap rasa frustrasi. Bersembunyi dan lari menjauh, jika ada orang yang bertamu ke rumah orang tuanya. Tetapi Tuhan Maha Besar. Suatu siang, hatinya menggelegak. Ingin membuktikan diri bahwa tubuh tuna daksa bukan berarti neraka. Matanya menatap lekat ke sebuah pohon. Lalu, tap-tap-tap, hanya dengan dua tangan, ia mampu memanjat (tepatnya merayap) hingga di ketinggian. Eureka! Ternyata bisa Inilah the golden moment (momen emas) yang melentingkan keyakinan dirin
  • 17

    Jan

    Resensi Buku: Mendorong Otonomi Desa di Tangerang

    Cover Buku Kabupaten Tangerang dan Otonomi Desa KITA semua berduka, atas bencana banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Tangerang. Apresiasi dan dukungan, patut kita tujukan kepada semua pihak —terutama golongan muda. Mereka dengan sigap memberikan pertolongan dan bantuan. Meski dilakukan secara spontan dan sporadis, namun datangnya inisiatif bantuan kepada para korban cukup berfaedah. Misalnya dalam hal evakuasi dan distribusi logistik. Semua itu, paling tidak, meringankan beban derita para korban. Namun duka itu kian menganga dan terasa dalam. Manakala melihat absen-nya bala bantuan dari Pemerintah Daerah. Selain datang terlambat, juga terlihat mekanisme kerja yang kacau dan tidak terorganisir. Padahal kata kunci dalam evakuasi dan distribusi bantuan bencana adalah koordinasi
  • 9

    Jan

    Resensi Buku: Menuju Tangerang Barat Termajukan!

    Garis perjuangan membentuk Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Tangerang Barat memiliki karakteristik khas. Tak seperti daerah lain, yang penuh gejolak dan berdarah-darah. Jauh pula dari metode tekanan politik dan parade demonstratif. Ciri khas gerakan politik membentuk Kabupaten Tangerang Barat, justru berpijak pada argumentasi. Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, gerakan politik menuntut pemekaran daerah, selalu diwarnai oleh kekerasan politik dalam berbagai bentuk. Mulai dari mengusung isu etnik, agama, dan kesukuan, hingga kepada provokasi perebutan lahan ekonomi (seperti konflik perebutan wilayah pertambangan, atau bancakan sumber daya alam). Tetapi untuk konteks Tangerang Barat, dua isu panas itu sama sekali tak hadir. Tak ada lahan tambang yang diperebutkan, da
  • 9

    Nov

    Resensi Buku: Bung Karno dan Isteri Tegarnya

    Cover Buku Kuantar ke Gerbang Bung Karno (dan Inggit Garnasih). Ksatria tampan dan (gadis ayu dari Bumi Priangan). Singa podium penghipnotis massa (dan sosok pendiam tapi tabah). Tuhan seperti mempertemukan dua arus besar: satu bergolak tak pernah berhenti, satu tenang tetapi dalam. Soekarno, atau Kusno, atau Bung Karno, adalah maha gelora laki-laki muda yang bergemuruh. Tetapi melabuh reda di pelukan Inggit Garnasih, —perempuan tenang, tabah, tetapi menaklukkan. Setidaknya menaklukan Bung Karno ketika tokoh proklamator itu berada dalam guncangan. Ingat, waktu itu beliau berada dalam fase maha berat, dipenjara, diasingkan, difitnah, dan berbagai bentuk tekanan lainnya. Kisah mengalun dengan merdu —pada awal buku, tentu saja. Tentang bagaimana Kusno (panggilan Soekarno
  • 10

    Oct

    Resensi Buku: Pendar Islam di Eropa

    Thariq Bin Ziyad membakar semua Armada Perang yang mengangkut logistik seluruh pasukannya, di bibir pantai Selat Gibraltar (laut Mediterania), persis di periode awal penaklukan Eropa oleh balatentara Islam. Namun jauh dari amuk dan kalap semodel Kaisar Nero yang membakar Kota Roma —-sebagai pelampiasan amarah, Sang Legenda Panglima Perang Islam itu justru sedang memancang strategi ulung. Api masih bergulung-gulung, ketika Thariq bin Jiyad berpidato di hadapan pasuakannya yang terlongong-longong karena bingung Lihatlah, sekarang kapal sudah hangus. Tak ada pilihan untuk lari dan pulang. Hanya ada satu cara rebut dan menangkan perang yang ada dihadapan kalian!!! Sebegitu dramatis. Tetapi banyak catatan historis yang membenarkan aksi nekat tapi brilian ini. Terutama di sekitar pros
  • 15

    Aug

    Resensi Buku: Madilog, Tan Malaka

    Madilog, Tan Malaka Telah banyak studi dan karya pustaka tentang Tan Malaka. Bahkan tak sedikit pakar yang secara sengaja mendedikasikan diri untuk mengkaji tuntas sosok pejuang pemikir paling mistrius ini. Beberapa nama yang bisa disebut adalah: Harry A Poeze dan Rudolf Mrazek. Bahkan Indonesianis yang namanya disebut terakhir itu, menyebut Tan Malaka sebagai tokoh yang komplit. Sementara sejumlah penulis nasional juga berhasil merekonstruksi sejumlah aspek menonjol dari Tan Malaka. Seperti Zulhasril Nasir (buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau); Harry Prabowo (Tan Malaka, Teori dan Praksis Menuju Republik); serta Matumona (Patjar Merah Indonesia). Dari semua itu, nyaris tak ada keberatan dari pihak manapun jika kita meletakkan buku Madilog sebagai magnum opus (karya besar) dan
- Next

Author

Follow Me