• 25

    Sep

    Anas, Norman Kamaru, Dewi Persik, dan Mimpi Kita

    Jika khayal, fantasi, dan angan-angan hadir disaat kita sadar, maka mimpi menyembul saat kita “setengah sadar”. Garis pembedanya tegas: sadar artinya seluruh organ, fisik, dan otak kita bersatu padu dalam gerak yang terkontrol. Sementara setengah sadar, organ, fisik, dan otak kita bekerja sendiri-sendiri. Saat mimpi, otak kita aktif berkelana, tetapi fisik kita, tangan kita, kaki kita, justru diam (tak berjalan seirama dengan kerja otak). Tapi jangan salah, justru dalam mimpi sajalah gelora hasrat terpendam bisa hadir dengan otentik. Tak ayal, dalam berbagai konteks, mimpi justru menjadi “gambaran asli”. Olehnya derajat mimpi kerapkali jauh lebih istimewa tinimbang sekedar khayal dan fantasi. Konon Julius Caesar tak berani menggerakkan mesin perangnya sebelum d
  • 23

    Sep

    Memaknai Sejarah Media Sosial

    Sejarah akan terasa membosankan kalau hanya berbentuk uraian kronologi (kapan, di mana, siapa). Beda jika sejarah ditelaah sebagai sebuah tafsir atas makna sebuah peristiwa. Karena akan terbuka pelbagai isi menarik, penuh inspirasi, dan warisan nilai-nilai kebaikan. Inilah yang perlu di gali dari sejarah media sosial… Jauh-jauh hari, para pakar komunikasi meyakini setiap jenis perangkat media membawa implikasi budayanya masing-masing. Tiap wahana (ber)komunikasi pasti memiliki karakter khas yang membentuk perilaku para pengguna. Atau paling tidak, terjadi proses saling pengaruh antara medium atau perangkat pembawa pesan dengan para user, dalam melahirkan perilaku tertentu. Sebuah istilah yang tepat untuk menggambarkan hal ini adalah dari Marshall McLuhan, bahwa medium is the messa
  • 16

    Sep

    Batu Karang Keteladanan Manusia Indonesia

    Buku ini seolah kembali mengabari kita bahwa Indonesia adalah negeri yang diberkahi para pengikut setia Yesus, Muhammad, Sang Budha, bahkan kaum Brahmana suci sekaligus (juga ladang subur penyemaian filosifi bijak Konfusius). Begitu banyak orang yang sanggup menjadi batu karang. Bersetia melakoni prinsip nilai-nilai kemanusiaan yang universal (kebaikan, cinta kasih, saling tolong, dan solidaritas). Sekaligus juga meneguhkan kembali ingatan, bahwa di periode dini kelahiran Republik, adalah negara-negara yang menjadi kiblat agama-agama besar di dunia, yang paling awal mengakui kemerdekaan negeri ini (yaitu Mesir, di susul negara-negara Arab, lalu Vatikan, dan India). Masihkah kita terus berselisih atas nama keyakinan agama —bahkan untuk perkara sepele? Maka teknik membaca kilat dan
  • 15

    Sep

    Suara Rakyat, Suara Konsultan

    Anda “benar” tatkala percaya adagium Suara Rakyat Suara Tuhan… Maksudnya: benar-benar buta realitas. Terutama terhadap fakta-fakta sosiologis di negeri ini. Suara Rakyat hari ini adalah penghamba terhadap perilaku hidup hedon, snob, pragmatis, dan ingin serba instan. Empat petikan istilah itu secara gampang bisa didefinisikan sebagai: Money Talk. Uang penentu segala-galanya… Terkesan keterlaluan memang. Tetapi nyata dalam konteks politik dan pertarungan kekuasaan. Seolah ada pembalikan watak, rakyat yang dalam kehidupan sehari-hari berperilaku sangat baik tetapi begitu masuk urusan politik, tak segan-segan untuk berperilaku buruk. Bahkan rakyat kita, dalam urusan politik Pilkada, berani melakukan keburukan politik dengan teramat bangga dan gembira… Maka wa
  • 9

    Sep

    Prahara Pilkada Langsung!

    Berapa panjang waktu persiapan untuk memenangkan Pilkada langsung? Jika Anda incumben (petahana), maka mungkin butuh satu setengah tahun. Tempo agak panjang itu terisi sejumlah agenda padat dan penting. Di periode paling dini, mengurus para birokrat yang tak setia untuk di kirim ke pos yang kering atau kalau perlu dinonaktifkan. Lalu berikutnya, merekayasa para penyelengara (KPU, Panwas) agar jinak dan lunak. Nah, langkah-langkah ini butuh waktu panjang bukan? Belum lagi untuk urusan berikut, yakni mengakali APBD agar banyak bagian bisa dirampok, guna membiaya Pilkada langsung. Plus “mempermainkan” program-program pemerintah (dari pusat atau dari Provinsi, atau bahkan dari APBD Kabupaten/ Kota), agar hanya bermanfaat untuk membuat Anda populer. Berikutnya, jika Anda incumbe
  • 8

    Sep

    Politisi Muda Bukan Keledai...

    Resensi Buku Anak-Anak Revlusi 2. Aku tak mau menghadapi era politik baru dengan jadi keledai di Indonesia. Kalimat bertenaga ini menjadi bantal penopang Budiman Sudjatmiko ketika menghadapi tantangan menarik, yakni melanjutkan kuliah di Cambride University, Inggris. Pendek kata, eks Ketua Umum Partai Rakyat Demokrat ini ingin menggenapkan jalan hidupnya sebagai politisi sekuat mungkin. Termasuk dengan melengkapi diri melalui pelbagai khasanah ilmu pengetahuan. Catatan: (petikan kalimat berhurup miring terdapat di halaman 144). Saripati buku Anak Anak Revolusi (Buku 2), menurut saya, terangkai di bagian itu, seputar perjalanan Iko (nama panggilan Budiman Sudjatmiko) dalam menggenapi proses menjadi. Khalayak akan segera mahfum, bahwa memilih menjadi seorang politisi itu bukan p
  • 22

    Dec

    Undang Undang (Martabat) Kepala Desa

    Demo Aparat Desa Rumus sederhana demi menggambarkan dramatis-nya rentang kerja para perangkat desa adalah contoh-contoh berikut: Harus siap buka pintu jika tengah malam rumah digedor penduduk karena ada salah satu warga yang dipatuk ular; kudu bergegas mendamaikan perkelahian pemuda; sesekali direpotkan menjadi saksi gara-gara nikah mendadak pasangan mesum yang ditangkap Hansip di makam umum; terpaksa ke luar uang pribadi lantaran tetangga sebelah kena musibah; dan lain-lain. Anda mungkin menyela, kan tak selalu begitu… Okelah, pertahankan pendapat itu. Tetapi tolong dikoreksi dengan fakta-fakta ini: pemimpin politik mana yang langsung bersentuhan dengan nasib sehari-hari rakyat kecil? Birokrat mana yang jam dinasnya tak ada batas waktu? Atau lembaga dan institusi formal mana y
  • 20

    Nov

    Mitos (Sesat) Kepahlawanan Bandit Jawara di Banten

    Benar. Terdapat ratusan kali perlawanan (via kekerasan) yang dilakukan oleh Kaum Djago dan Para Djawara Banten tempo doeloe. Benar pula, pihak yang mereka lawan adalah para penjajah negeri ini —untuk itu, mereka patut disebut pahlawan. Dan yang paling benar adalah: pemberontakan itu tumpas sedemikian cepat. Ada yang hanya dua jam, empat jam, atau tiga empat hari saja… Korbannya selalu gila-gilaan. Ratusan rakyat perlaya. Ini yang harus kita cermati. Agar tak tertipu sejarah —atau dibohongi para pendukung Jawara Banten. Rakyat (petani) yang tertindas seperti tergenang air di batang leher, satu riak saja akan membuat mereka tenggelam. Pemberontakan yang mereka lakukan —diprovokasi para Jawara Banten, adalah gelombang riak itu, dan menamatkan nafas terakhir merek
  • 14

    Nov

    Para Polisi Muda dan Copet Jakarta (yang) Merdeka!

    Jakarta. Senja. Sepulang kerja. Di atas Bis Kopaja jurusan Tanah Abang - Blok M. Bertapisan tangan, berebut posisi, lalu bis bergoyang. Tiga pria di belakang, dan satu di depan, berkerumun mendekat. Lalu aku tersadar, pasti ada sesuatu yang hilang. Ingatan langsung ke dompet, yang berisi uang (sisa belanja buku dari si Bos). Ternyata ada. Lalu, duh, Handphone (dua buah) di kemeja depan lenyap. Refleks aku menegur si pria di depan. Saling ngotot, aku mencoba merebut dan merogoh tas plastik yang ia bawa. Serentak tiga pria di belakang bereaksi. Yang satu membetot leher, dan yang lain mendorong aku —memaksa turun. Insting bergerak cepat. Lari menghambur ke arah polisi —-jarak sekitar 60 meteran. Dan kejengkelan mulai di sini. Sekuat tenaga mempercepat langkah di gurita kemac
  • 25

    Jun

    Penyiksaan Logika, Kisah Kancil Pilek, dan Darin Mumtazah

    Dalam ilmu logika, ada satu istilah yang disebut dengan logika fuzzy. Kaidah utamanya adalah: sebuah kata atau sepetik seruan akan jauh lebih efektif diucapkan tinimbang menghamburkan beribu dalil dan argumen yang detil. Logika fuzzy sesungguhnya samar, tak tegas, tapi bisa digunakan secara baik dalam saat tertentu. Contoh: tatkala kawan kita nyaris tertabrak sepeda motor, kita akan berteriak pendek tapi keras: awas!!! Dan tidak mengatakan detil: Hei kawan, ada sepeda motor di belakangmu dengan kecepatan 80 kilometer perjam, jika kamu tak menepi maka akan tertabrak… Logika fuzzy bisa diringkas seperti ini: kadang sebuah kata lebih bertenaga daripada seribu kata… Problemnya, logika fuzzy kerapkali juga cocok untuk tujuan-tujuan negatif. Bisa dipakai untuk membung

Author

Follow Me